Ujian Nasionalisme di Era Corona

ads

 

Oleh : M Syarbani Haira

FOKUSPARLEMEN.ID – UNTUK pertama kalinya, jumlah orang terinfeksi virus corona di Amerika Serikat Minggu, 05 April 2020 nembus diangka 300.000 orang, tepatnya 311.357. Angka ini memperlihatkan kenaikan yang signifikan. Angka kematian juga di atas 1.000 orang dalam sehari, dan kini hampir di angka 10.000 ribu orang (tepatnya 8.452 kasus). Sedang yang memperoleh kesembuhan tercatat 14.795 kasus. Presiden Trump akhirnya meminta sekitar 330 juta warga AS untuk menggunakan masker non-medis.

Angka kematian karena corona dinegeri Paman Sam ini sudah melebihi China, yang merupakan epicentrum corona pertama. Tetapi dari kejadian ini, tak tertutup kemungkinan AS menjadi epicentrum kedua. Kota-kota seperti New York 114.775 kasus, New Jersey 34.124 kasus, Michigin 14.225 kasus, California 13.649 kasus, merupakan daerah terdampak diatas rata-rata. Juga dengan beberapa kota lain seperti Los Angeles, Chicago dan kota-kota lainnya, meski sudah menerapkan lockdown, namun peningkatan serangan pandemi dunia itu terus saja melaju.

Dipandang dari sisi moneter dan keuangan, kasus corona di AS bisa diduga bakal seperti kejadian tahun 1929 – 1933. Kala itu adalah era kehancuran perekonomian AS. Era yang disebut dengan Great Depression itu membuat perekonomian AS berantakan. Diera itu pengangguran meningkat, dan saham-saham berjatuhan.

Menyikapi kejadian itu, rakyat AS dan para ilmuan rame-rame mengkritik kebijakan negara, juga Trump sebagai Kepala Negara. Direktur Center Suistainable Development, Universitas Colombia, Prof Jeffrey Sachs, melalui media terkemuka CNN mengkritik Trump yang dinilai telat. Menurutnya, AS gagal merespon epidemi ini. Tak siap menghadapi. Terlebih, menurut Sachs, Trump telah mengobrak-abrik sistem kesehatan yang sudah ada, sehingga membuat AS semakin tak siap dengan pemangkasan tim kontrol epidemi.

Rakyat AS pun sepertinya juga sudah muak dengan politisi gaek ini. Namun mereka tak melakukan sumpah serapah pada kepala negara yang kerap berbuat kontroversi tersebut. Dalam sebuah survei hanya disebutkan, jika kemungkinan dalam pemilihan presiden mendatang, Donald Trump bakal kalah telah telak.

Seperti halnya di AS, corona di Indonesia juga bertambah. Penanganannya juga dinilai telat. Sebulan lalu, tepatnya 2 Maret, Presiden Jokowi mengumumkan secara resmi kasus pertama positive corona. Hingga kini (Minggu 05 April 2020), kasus corona yang terinfeksi menjadi 2.272 orang (bertambah 181 kasus). Pasien meninggal menjadi 198 (7 kasus baru), sedang yang sembuh 164 (14 kasus baru).

Dengan memperhatikan trend ini, maka angka kesembuhan setara dengan 7.21 %, sedang angka kematian CFR-nya (case fatality rate) menjadi 8.81 %. Jika saja test rapid terus saja dilakukan, maka CFR-nya pasti akan turun, sementara angka kesembuhannya pasti akan naik. Ini sejalan dengan banyaknya kasus terinfensi yang berhasil ditest atau dimonitor.

Tetapi beda antara AS dengan Indonesia. Warga AS cuma mengkritik policy negara. Sedang di Indonesia rakyat mengkritik figur pemimpinnya, atau pejabatnya. Corona membangkitkan semangat politik partisan. Kelompok yang sejak awal tak suka dengan Presiden Jokowi, rame-rame bikin analisis. Tak hanya itu, menteri-menterinya juga dikritik. Mulai dari masalah ekonomi, hingga kebangsaan. Satu hal yang transparan mereka kumandangkan, agar negeri ini segera mengambil langkah lockdown, walau ini bukan pilihan terbaik. Namun anjuran ini bak kor mereka gelorakan oleh faksi-faksi yang ada saat pilpres 2019 lalu.

Anjuran lockdwon sesungguhnya tak masalah. Hanya saja yang mereka teriakan menunjukkan rendahnya identitas nasionalisme, berbangsa dan bernegara. Jika indikator nasionalisme dan patriotisme sebagai ukuran, nampaknya kelompok ini sudah tak peduli dengan negaranya. Simbol negara yang harus dijaga, dihormati, justru mereka plenter dengan statement yang tak mengenakkan. Kepala Negara mereka sebut si “pelanga-pelango”, si “nganu”, kadang juga si “kerempeng”. Ini jelas penghinaan terhadap simbol negara. Ini hanya sebagian julukan ringan terhadap simbol negara, dan masih banyak berkeliaran julukan lain yang lebih ngeri dan seram.

Dari dua kejadian di atas, patut dijadikan pelajaran. Jika model AS sebagai contoh, sedahsyat apa pun kasus corona melanda rakyatnya, tak akan serta merta melakukan sumpah serapah terhadap kepala negaranya. Berbeda di Indonesia, walau kasusnya masih jauh di bawah, tetapi justru ini menjadi ruang yang cepat berkembang, munculnya pelecehan terhadap seorang kepala negara.

Bahwa warga negara AS muak dengan penampilan dan gaya Trump yang hedonisme, memang ya. Mungkin samalah dengan kelompok anti Jokowi di negeri ini. Apalagi kelompok yang dulu pernah demo berjilid-jilid. Hanya saja rakyat AS tak mengekspresikannya dengan meremehkan pemimpinnya. Mereka cuma bulat bertekad, untuk tak lagi memilih Trump (yang mereka benci) sebagai presiden dalam pilpres mendatang.

Keadaan berbeda terjadi di Indonesia. Justru inilah moment yang tepat bagi mereka untuk melecehkan, menghina sang pemimpin. Grand finalnya sama, menurunkan kepala negara. Beragam ancaman berkali-kali mereka ungkapkan, “tunggu saja waktunya”.

Bagaimana ini bisa terjadi ? Tentu banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Ironisnya, para ilmuan kampus bergelar doktor sekalipun bukan prihatin atas kejadian ini. Malah sebagian ikut menjadi buzzer-nya. Harusnya, ilmuan yang sudah terdidik dengan biaya negara tersebut, berpikir negarawan. Mereka ikut mencerdaskan bangsa. Mendidik rakyat banyak, yang memang mayoritas belum mampu membedakan sesuatu secara proporsional dan profesional.

Inilah ujian nasionalisme. Semua pihak harus peduli. Negara, dan menteri-menteri terkait saatnya memikirkan ulang masalah ini. Mendikbud RI adalah orang yang paling bertanggung jawab. Rektor negeri dan swasta, dosen dan guru besar, serta para guru, sejak dari dasar hingga lanjutan atas, harusnya bertanggung-jawab. Merekalah aktor pembangunan karakter bangsa ini. Dari merekalah dihasilkan generasi penerus, yang seyogyanya harus memiliki semangat nasionalisme dan patrioritisme. Pemimpin masa depan, generasi penerus bangsa.

Fenomena AS, patut dijadikan model. Beberapa tahun lalu, The international Social Survey Program, lembaga yang berbasis di Norwegia, melakukan survey dengan maksud untuk mengukur semangat nasionalisme dan patriotisme. Ternyata, AS menempati urutan pertama sebagai negara yang nasionalisme dan patriotisme paling baik, disusul sejumlah negara maju lainnya, termasuk Australia di urutan ketiga.

Dalam survei tersebut, terdapat dua indikator pertanyaan yang ditujukan pada masyarakat di 33 negara. Indikator yang mereka kaji adalah : pertama, kebanggaan seorang warga negara ketika tinggal di negaranya sendiri (nasionalisme). Kedua, kebanggaan mereka terhadap kesuperioran negara mereka dibandingkan dengan negara lain (patriotisme).

Ternyata, tingginya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan warga AS terhadap negara dan bangsanya, karena negara mewajibkan siswanya tiap awal pembelajaran, dengan mengucapkan pernyataan kesetiaan pada bendera dan negara. Ini dilakukan, karena usaha membiasaan menumbuhkan nilai karakter nasionalisme dan patriositisme dilakukan sejak dini. Praktik ini juga dilakukan tiap kali sidang kongres, acara-acara pertemuan pemerintah serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh swasta dan organisasi-organisasi mereka.

Harusnya rakyat Indonesia kompak melakukan gerakan, menciptakan sistem menumbuhan nasionalisme yang mampu diterima semua pihak. Misal mulai dikelas, sekolah, serta dimasyarakat. Ke depan, jika terjadi bencana dunia seperti wabah corona, bukan cacian yang dikumandangkan, melainkan semangat kebersamaan melakukan perlawanan, agar negara tetap surviv, kuat, maju dan mandiri. Jangan tiap ada masalah selalu dikaitkan dengan upaya mengganti pemimpin. Jangan ada lagi hinaan dan caci maki pada pemimpinnya. Karena itu, saatnya kita gelorakan semangat nasionalisme dan patriotisme, dan kita harus lulus dari ujian ini.

Alhamdulillah, kepolisian telah mencium bau tak sedap ini. Minggu 04 April 2020, Kapolri Jenderal Idham Azis menerbitkan tiga surat terkait penanganan pandemi virus Corona ini. Satu diantaranya, masalah kejahatan siber. Surat bernomor ST/1098/IV/HUK.y7.1/2020 itu mengantisipasi kemungkinan ada penghinaan pada penguasa, presiden dan pejabat pemerintah, selain masalah berita bohong dan ketahanan data akses internit. Selain usaha ini urgent sebagai langkah preventif, tugas negara lainnya adalah menata ulang sistem pembinaan kebangsaan, agar spirit nasionalisme dan patriotisme benar-benar dihayati dan dilaksanakan denhan baik oleh semua anak bangsa. (*)

M. Syarbani Haira, pekerja sosial. Ketua Dewan Syuro Mesjid As-Su’ada Universitas NU Kalsel, tinggal di Banjarmasin

ads
ads

You may like

ads
In the news
Load More
ads