Peran Orang Tua Dalam Mendidik Generasi Z

Conference Training Planning Learning Coaching Business Concept

FOKUSPARLEMEN.ID, JAKARTA –!Perkembangan dalam bidang teknologi informasi atau yang sekarang disebut dengan era digital telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia mulai dari sosial, ekonomi, budaya, bahkan dalam dunia pendidikan sekalipun.

Kemajuan di dunia yang serba digital yang ditandai dengan semakin canggihnya berbagai perangkat mobile seperti gadget, tablet, smartphone dengan berbagai fitur canggih di dalamnya serta penggunaan jaringan internet yang semakin luas telah memberikan banyak kelebihan contohnya dalam upaya peningkatan efisiensi, kemudahan akses dan transfer informasi serta berbagai keuntungan lainnya.

Namun seringkali, pemanfaatan teknologi yang tidak pada tempatnya justru bisa memberikan dampak buruk yang tidak terduga, yang berujung pada kasus-kasus cyberbullying seperti kekerasan dan penipuan. Tidak hanya itu, hal yang juga tidak kalah penting adalah pergeseran pola hidup yang lebih bersifat individualis dan apatis.
Tidak bisa dipungkiri, fenomena booming teknologi berdampak pada melesatnya penggunaan smartphone yang mencapai 7.22 miliar unit. Jumlah ini hampir setara dengan populasi penduduk dunia yang mencapai 7.2 miliar. Di Indonesia sendiri, bahkan sudah muncul generasi gadget dan smartphone yang sayangnya justru didominasi oleh anak-anak di bawah umur yang lebih dikenal sebagai generasi Z.

Menurut penelitian Millward Brown (2017), generasi Z memiliki karakteristik berbeda dibandingkan generasi Y atau bahkan generasi X (baby boomers). Generasi Z lahir saat teknologi digital tengah berkembang pesat. Generasi ini juga lebih melek internet dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Keistimewaan generasi Z, seperti dilansir The Huffington Post, senin (6/11/2017), adalah sifat mereka yang haus informasi. Generasi Z senantiasa ingin memperbarui pengetahuan atau informasi yang dimilikinya. Ada baiknya para pengajar tak berhenti dengan adanya mengandalkan perangkat teknologi, anak didik juga seyogianya dibuat terbiasa membuka kanal Youtube maupun akun media sosial yang inspiratif.

Pola sosialisasi anak-anak pun mulai berubah, lebih bersifat soliter dan kurang mengerti dengan nilai-nilai sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Sebenarnya, jika dipandang dari kacamata pendidikan, anak-anak belum membutuhkan smartphone dalam proses perkembangan mereka.
Artinya, smartphone tidak menjadi sebuah kebutuhan urgen untuk membuat anak menjadi lebih pintar. Justru sebaliknya, banyak nilai-nilai dalam tataran sosial yang perlahan-lahan mulai pudar padahal nilai-nilai tersebut yang dibutuhkan bagi kematangan hidup anak di masa depan.

Sayangnya kondisi ini tidak dipahami sepenuhnya oleh orangtua, secara sengaja atau tidak telah muncul pemahaman atau presepsi yang salah untuk memperkenalkan gadget sejak dini sebagai media untuk mendidik dan mengasuh anak.

Padahal menurut psikolog Tika Bisono, terlalu sering bermain gadget akan berpengaruh pada sikap anak yang cenderung lebih menyukai kesendirian daripada harus bersosialisasi dengan teman-teman di lingkungannya. Jika hal ini tidak diperhatikan dengan baik, lama kelamaan kesadaran anak tentang lingkungan sosial akan menurun.

Kesadaran sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini tidak saja menyangkut aktivitas sosialisasi dan kepercayaan diri anak untuk bertatap muka, namun juga mengarah pada sikap-sikap yang menunjukkan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitarnya seperti sikap saling menghormati, toleransi, dan sebagainya.

Sikap-sikap seperti ini tidak bisa diperoleh dengan bantuan aplikasi yang ada di smartphone. Sebaliknya berbagai aplikasi yang ada seperti games justru mendidik anak untuk lebih bersikap agresif dan individualis. Inilah yang perlu disadari dan diperhatikan oleh orangtua maupun lingkungan keluarga.
Setiap anak pada dasarnya akan mengalami fase yang disebut dengan golden age yang mana masa ini sangat menentukan apakah di masa depan anak bisa menjadi pribadi yang tangguh atau tidak. Mungkin memang terkesan sepele, tapi pentingnya masa ini tidak disadari betul oleh banyak orangtua. Jangan sampai ada slogan ‘asal anak senang’, masa depan mereka dipertaruhkan.
Dalam usia emas anak yang berlangsung pada umur 1-5 tahun, mereka lebih menyukai permainan untuk merangsang sistem motorik sehingga tidak ada salahnya memperkenalkan nilai-nilai dan etika sosial dengan menggunakan permainan tradisional seperti dalam petak umpet, congklak, gobak sodor dan engklek dengan menggunakan aplikasi dan internet yang terdapat dalam smartphone.

Permainan tradisional ini mengandung nilai-nilai luhur dalam kebudayaan yang bisa kita petik sebagai alternatif pendidikan bagi anak. Singkatnya, memadukan perkembangan teknologi dengan nilai nilai budaya sebagai basis pendidikan anak merupakan pilihan yang bijak bagi orangtua. Sehingga keseimbangan anak antara bermain smartphone dan permainan tradisional membuat mereka dapat melestarikan budaya dan mengembangkan teknologi.

Selayaknya para orang tua dan guru di sekolah mengubah cara didiknya. Tak bisa lagi dengan cara using-usang, tetapi harus lebih kekinian. Mau tak mau, mereka harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap pelajaran dengan lebih cepan dan tepat sasaran. Berbeda dengan masa sebelumnya, yang mana pola belajar-mengajar cenderung dilaksanakannya satu arah, kini generasi Z berharap lebih. Mereka ingin adanya pengajaran dua arah dan penuh interaksi dengan guru. Maka generasi ini diperlukan kurikulum pembelajaran yang lebih fleksibel lagi untuk memberikan anak anak generasi Z lebih banyak mengeksplor dunia belajar mereka sendiri.

Dapat disimpulkan dari hasil pemaparan penulis bahwasanya peran guru dan orang tua dalam mendidik generasi z harus di bombing dengan pola pengawaasan yang baik. Terkuhusus lagi dengan penggunaan teknologi yang begitu serba canggih , dan di imbangi dengan pola pembelajaran yang lebih fleksibel. Dengan adanya pola tersebut diharapkan generasi z dapat tumbuh menjadi generasi emas yang baik dan kompeten bagi bangsa Indonesia. (*)

Lamkaruna Putri Elmus Kadwi

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi

You may like

In the news
Load More