PENYAMBUTAN BULAN RAMADHAN DI PROVINSI ACEH

Penulis : Ihsan Kamil

Mahasiswa FKIP Ekonomi Unsyiah

FOKUSPARLEMEN, OPINI – Bulan ramadhan adalah bulan yang dinantikan oleh seluruh umat muslim. Terlebih di Aceh. Seluruh umat muslim di Aceh pun senantiasa menyambut bulan ramadhan. Daerah yang mayoritas muslim ini pun terasa kental sekali lho nuansa religinya saat Kamu berkunjung ke sana di bulan Ramadhan.

Ada sebuah tradisi ramadhan di Aceh yang pastinya tidak akan pernah kamu temui di daerah lainnya. inilah kenapa Kamu harus datang ke Aceh saat bulan ramadhan:
Tradisi meugang di Aceh dilakukan tiga kali dalam setahun. Dua hari sebelum puasa, dua hari menjelang Idul Fitri, dua hari menjelang Idul Adha. Tapi perayaan yang paling meriah saat meyambut bulan puasa. Pada tradisi meugang ini semua masyarakat akan menyiapkan menu dengan bahan dasar daging sapi.
Tidak heran kalau saat menjelang puasa seluruh pasar tradisional di Aceh dibanjiri oleh pedagang daging musiman dan para pembeli. Daging yang mereka beli akan diolah dan dinikmati bersama anggota keluarga. Saat Kamu datang ke Aceh sebelum bulan ramadhan Kamu pun bisa ikut menikmati tradisi ramadhan ini bersama warga lokal.

Tentu ini akan menjadi sebuah pengalaman baru dan unik buat kamu kan? Kamu pun akan menemukan daging-daging digantung di lapak-lapak penjual di berbagai titik. Sungguh pemandangan yang menarik dan unik.

Harga daging yang dijual pada hari meugang atau madmeugang melonjak drastis. Jika biasa Rp 130.000 hingga Rp 140.000 maka pada hari meugang menjadi Rp 150.000 hingga Rp 170.000. Meski tergolong mahal, tapi itu tidak menjadi masalah bagi masyarakat Tanah Rencong. Pasalnya, jauh hari sebelum meugang warga sudah mempersiapkan diri untuk membeli daging sesuai kemampuan.
Pada zaman dulu, masyarakat Aceh menganggap makan daging sebagai makanan yang mewah. Selain hari meugang, masyarakat hampir tidak pernah makan daging. Dalam tradisi masyarakat Aceh, menyambut Ramadan harus dalam pesta besar dan berkumpul semua anggota keluarga sehingga diadakan hari meugang.

Saat meugang, warga di perantauan tidak boleh mengirim uang untuk membeli daging tapi harus pulang dan membawa daging untuk orangtua. Bagi masyarakat di Aceh, hari meugang tanpa membeli atau makan daging rasanya tak lengkap, bahkan bagai aib. Kaya miskin seakan wajib memilikinya.

Meski sekarang masyarakat sudah sering makan daging, tapi beda rasanya dengan saat meugang. Bahkan jika ada anggota keluarga belum pulang ke rumah, orangtua belum tenang meski anggota keluarga lain sudah berkumpul semua.
Jadi intinya adalah pertama untuk membangun silaturrahmi dengan anggota keluarga dan hari itu semua harus makan daging baik kaya maupun miskin. makan bersama saat hari meugang sebaiknya dilakukan di rumah bukan di pantai atau tempat wisata lainnya. Karena tujuannya adalah kumpul bersama mulai dari anak hingga nenek. Makan di tempat lain juga dapat menghilangkan hikmah dari tradisi tersebut.

Momen Ramadan sangat sakral bagi masyarakat Tanah Rencong. Sejak zaman dulu hingga kini, tidak ada yang mempermasalahkannya. Bahkan, warga sangat bergembira dan antusias dengan tradisi ini. Dari sisi lain orang Aceh ini, meugang bisa disebut sebagai hari bersuka-cita. Ini hari sangat sakral dan bergembira untuk menyambut Ramadan.

Untuk daging sendiri, sebenarnya tidak ada aturan yang mengharuskan sapi atau kerbau. Daging rusa, kambing juga dibolehkan. Namun warga Aceh punya alasan khusus memilih dua hewan ternak di atas. Karena kerbau dan lembu lebih mahal maka mereka pilih itu. Gaya hidup orang Aceh dari dulu sangat mewah. Makanya makan pun harus mewah. [MI]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *