Pengaruh Kopi dan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan di Aceh

Oleh: Jumadin (Aktivis Enterpreneur Sekolah Pemimpin Muda Aceh)

FOKUSPARLEMEN – Kopi adalah minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan di haluskan menjadi bubuk. Kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua varietas pohon kopi yang sangat dikenal secara umum yaitu kopi rebusta (Coffee canephora) dan kopi arabika ( Coffe arabica).

Pemrosesan kopi sebelum dapat diminum melalui proses panjang yaitu dari pemanenan biji kopi yang telah matang baik dengan cara mesin maupun dengan tangan. Kemudian dilakukan pemrosesan biji kopi dan pengeringan sebelum menjadi kopi gelondong. Proses selanjutnya yaitu penyangraian dengan tingkat derajat yang bervariasi. Setelah pengyaringan biji kopi digiling atau dihaluskan menjadi bubuk kopi sebelum kopi dapat diminum.

Sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh bangsa etiopia di benua afrika sekitar 3000 tahun ( 1000 SM) yang lalu. Kopi kemudian terus berkembang hingga saat ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat.

Salah satunya provinsi daerah Aceh yang berada di indonesia yang terletak di ujung utara pulau sumatera yang merupakan sebuah provinsi paling barat di indonesia. Letaknya dekat dengan kepulauan andaman dan nikobar di India dan terpisahkan oleh laut andaman.

Aceh berbatasan dengan teluk benggala di sebelah utara, Samudra hindia di sebelah barat, Selat malaka di sebelah timur, dan sumatera utara di sebelah tenggara dan selatan.

Ibu kotanya adalah Banda Aceh, Dengan jumlah penduduk berkisar sekitar 4.500.000 jiwa. Sampai saat ini tingkat pegangguran di Aceh berkisar 6,55 persen dari jumlah penduduk. Inflasi provinsi Aceh, pada juni 2018 sekitar 0,84 persen dan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2018 6,55 persen. Dari data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh.

Pada september 2017 Aceh menempati peringkat ke-6 penduduk miskin se-indonesia, Peringkat posisi pertama hingga kelima di tempati oleh papua, papua barat, Nusa, Maluku, dan Gorontalo.

Jika dilihat dari persentase jumlah penduduk miskin di Aceh yang paling mendominasi tertinggi di sumatera, Namun jika dilihat secara angka penduduk miskin di Aceh yang paling drastis penurunannya pada september 2017.

Dalam bola mata penulis, Sangat ironis melihat persentase dan angka kemiskinan penduduk Aceh, sebagaimana penulis ketahui aceh adalah wilayah yang sangat konservatif dan memiliki otonomi tersendiri dan Anggran pendapatan dan Belanja Daerah ( APBA), Jauh berbeda dengan daerah provinsi lainnya.

Disisi lain Aceh juga memiliki sumber daya alam yang melimpah dan juga terkenal dengan hutannya yang terletak di sepanjang jajaran bukit.

Penulis berpendapat pada tulisan ini, Idealnya bila Aceh memiliki banyak uang ( Anggaran) harus digunakan sesuai peraturan pemerintah republik indonesia nomor 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah. Poin nomor lima dalam pasal satu di sebutkan.

Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.

Maka dengan demikian penulis mengimbau kepada pemerintah aceh untuk memperkuat tenaga penyuluh komoditas pertanian.

Karena Aceh tanpa kopi bukan apa-apanya. Hadirnya kopi di tengah-tengah masyarakat Aceh, harus bangga dan berterimakasih. (*)

Penulis adalah Jumadin, Aktivis Enterpreneur Sekolah Pemimpin Muda Aceh, mahasiswa Unmuha Aceh

Opinion

Copywrite Fokusparlemen.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *