Mahasiswa Unsyiah: Bahasa Aceh Pudar Karena Kekayaan Dan Tempat Tinggal

FOKUSPARLEMEN.COM – Mahasiswa Unsyiah, Ziaul Fahmi mengatakan bahwa bahasa Aceh pudar karena kekayaan dan tempat tinggal.

Aktivis Sekolah Pemimpin Muda Aceh yang juga pegiat literasi dan olah raga ini mengatakan Bahasa Aceh merupakan bahasa khas daerah Provinsi Aceh yang sudah ada dari masa dulu. Bahasa Aceh merupakan bahasa yang paling banyak digunakan oleh penduduk yang ada di tanah Islandar Muda ini, sekitar 70% penduduk Aceh menggunakan bahasa “Aceh dalam kehidupan sehari-harinya. Selebihnya masyarakat menggunakan bahasa daerahnya masing-masing seperti bahasa Gayo, Aneuk Jame, Devayan, Haloban, Alas, Singkil, Pakpak, dan sebagainya,” tegasnya.

Hal ini menunjukkan betapa kaya Aceh dengan Bahasa dan Budaya. Namun demikian banyak orang Aceh yang merasa gengsi untuk menuturkan bahasa Aceh atau mengajarkan bahasa daerah (Aceh) kepada anak-anak mereka. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan tempat tinggal masyarakat tersebut. Seiring berkembangnya zaman sudah sangat sedikit kita temui anak-anak khususnya di perkotaan yang berbicara bahasa daerah (Aceh) kecuali di daerah tertentu atau di perkampungan.

Ziaul mengatakan bahwa belajar bahasa asing bertujuan untuk tidak tertinggalnya akan kemajuan zaman, tetapi meninggalkan kebiasaan daerah (adat) sama dengan meninggalkan budaya dari nenek moyang itu sendiri.

“Sungguh sangat disayangkan berlahan Aceh mulai hilang ciri khasnya. Aceh yang istimewa terasa hanya tinggal sejarah dan namanya saja,” jelas Ziaul Fahmi yang juga alumni Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *