Hari Santri Bersama Kiai Ma’ruf Amin di Arisbaya Madura

(Foto /Ist)

FOKUS PARLEMEN, BANGKALAN | Silaturtahim Kiai Ma’ruf pada tgl. 19 Oktober 2018 diawali dg silaturrahim di pendopo Bupati Bangkalan. Acaranya cukup meruah yg dihadiri oleh ulama, Bupati dan Wakil Bupati dan pemerintah serta masyarakat se Bangkalan. Acara dirangkai dlm sambutan singkat dan ramah tamah. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pesantren Hidayatullah Muhajirin desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan yg diasuh oleh Kiai Linul Qalbih Hamzah Amhad.

Acara di Pesantren Al Muhajirin disambut dg drumben kreatifitas santri dan atraksi Banser. Acara sangat meriah yg dihadiri oleh 110 Kiai Khash se Madura, alumni santri sebanyak 750 orang, Banser dan masyarakat umum. Hadir dalam acara di Pesantren Al Muhajir Bupati, Kapolres dan tokoh-tokoh masyarakat se Madura.

Perjalanan Kiai Ma’ruf Amin ke Pesantren Al Muhajirin di Arosbaya Bangkalan Madura sunggu menumukan tiga hal sekaligus untuk memenui nilai agama dan kemajuan bangsa. Yaitu napakntikas nasab, silaturrahim dan membangun karakter santri.

Pertama, Sebenarnya Kiai Ma’ruf Amin keturunan Madura dari jalur Ibunya. Yaitu Nyai Ratoh Ebuh (Ratu Ibu) di Bangkalan. Orang menyebutnya Ratu Arisbaya yang nama aslinya Nyai Narantoko yang dinikahi oleh Raua Sumedang yang anak keturunannya adalah Kiai Ma’ruf Amin.

Ia adalah anak perempuan(binti) zuhra pradoto jambringin. Ia dikenal sbg nyai ratu arusbaya dimakamkan di pamekasan. Zuhra adalah lelaki (Bin) Ki pragalbo bin demang plakaran. Ia Dimakamkan di arosbaya.

Kiai Ma’ruf Amin dlm rangka menapak tilas kepada para leluhurnya di Madura. Teadisi keagamaan sangat seiring dg budaya masyarakat yg selalu menyambung doa kpd leluhur dan silaturrahim para sanak saudara.

Kedua, silaturrahim dg seleuruh sanak famili dan seluruh ulama se-Madura. Sangat penting utk menyambung ikatan pesaudaraan biologis dan ideologis guna membangun bangsa lebih maju bernilai agama.

Silaturrahim dapat memudahkan datangnya rezeki dan dapa memanjangkan umur. Artinya silaturrahim menjadi pembuka kesejahteraan masyarakat. Bangsa yg mampu merekatkan konsolidasi kemasyarakatan aka terbangun kemajuan. Tak mungkin suatu bangsa akan membangun negerinya tanpa adanya persatuan.

Ketiga, pendidikan karakter yang religius dan nasionalis. Di tengah deru arus globalisasi sering kali menggerus budaya dan agama sehingga santri meninggalkan pijakan ajaran pesantren. Kadangkala deru transnasional berbasis keagamaan menggerus nasionalisme. Bahkan tak sedikit mempertentangkan agama dengan nasionalisme. Karakter santri harus kokoh berdiri diatas pijakan agama dan nasionalisme. Inilahkarakter santri menjadikan agama sebagai nilai membangun bangsa dan negara sebagai sarana untuk menjalankan ajaran agama.

Saat Indonesia dalam perjuangan meraih kemerdekaan tak lepas dari perjuangan kaum santri. Saat-saat memeperjuanhkan kemerdekaan kaum santri terdepan yang dipimpin oleh kiai. Demikian juga saat persiapan kemerdekaan dalam merumuskan model negara Indonesia menjadi Negara Kegara Kesatuan Republik Indonesia merupakan aspirasi kaum santri. Bahkan ketika Indonesia sudah merdeka pun santri andil dalam mempertahankan kemedekaan melalui Resolusi Jihad. Bahwa dalam fatwa para ulama menyatakan, membela Tanah Air adalah jihad fi sabilillah (berjuang di Jalan Allah)

Membangun mimpi santri. Bahwa santri mampu menjadi apapun dengan bekal pendidikan pesantren. Jangkauannya bukan hanya lokal atau nasional tapi juga internasional. Santri telah terbukti mampu menjadi presiden, menteri, ekskutif, yudikatif, legislative, dan juru damai. Maka santri generasi millenial di era digital harus mampu menembus kepahlawanannya di tingkat internasional, seperti di Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi Islam internasional dan berperan aktif dalam penyelesaian masalah global.

Realitanya, banyak santri yang sudah berperan secara internasional. Peran akademik dan peneliti internasional, bidang politik dan perdamaian dunia serta bidang teknologi banyak dilakukan oleh santri. Santri memiliki karakter ulet dan pantang menyerah sehingga mampu mendalami ilmu pengetahuan dan berperan aktif di masyarakat.

Santri harus identik dengan kepahlawanan yang berbuat demi kebaikan orang banyak. Semboyannya adalah sebaik-baik santri adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang banyak. Makin banyak memberi manfaat kepada yang lebih banyak orang maka makin ternilai kemanfaatan ilmunya. (*)

Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *