Gerakan Subuh Berjamaah di Hari Pencoblosan Berpotensi Picu Gesekan

FOKUSPARLEMEN.ID – Waketum Babad Banten Nasional KH Imaduddin Utsman Kresek menyayangkan munculnya wacana sholat subuh berjamaah saat hari pencoblosan. Sejogyanya demokrasi itu hanyalah mekanisme lima tahunan memilih presiden dan wakil presiden serta para wakil rakyat. Sangat tidak elok bila menjadi ajang show of force. Seolah olah digambarkan perang hidup matinya bangsa Indonesia.

Kita harus dewasa melihat perbedaan pilihan politik. Tapi jangan dibumbui oleh nuansa keagamaan yang bisa memicu konflik horizontal sesama umat Islam sendiri. Hal ini tegaskan oleh KH Imaduddin Utsman Kresek dilansir Fokusparlemen.id, Rabu (27/03/2019) di Tangerang.

Lebih lanjut Kyai Imad mengatakan, rencana solat subuh berjamaah pada hari pencoblosan tanggal 17 April 2019 diteruskan dengan mendatangi TPS secara bergerombol yang akan di laksanakan oleh FPI, PKS dan HTI diprediksi akan memancing konflik horizontal sesama umat Islam.

Gerakan ini akan sangat berbahaya untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Isu agama selama ini kerap dipolitisasi untuk meraup suara. Guna meraih kekuasaan telah mempolarisasi umat Islam ke dalam dua kelompok saling berhadapan.

Negara harus hadir untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari perpecahan dengan menghentikan rencana acara tersebut. Sebelum rencana itu direspon oleh mayoritas umat Islam. Yang jelas tidak setuju dengan usaha-usaha politisasi ritual keagamaan yang sakral. Yang hanya ditempatkan sebagai komoditas.

“Jika negara diam dan kadung acara ini direspon oleh mayoritas umat Islam. Maka ini akan semakin sulit untuk dihentikan. Padahal 17 April hanya beberapa hari lagi,” kata Kyai Imad.

Menurutnya, ormas terbesar seperti NU dan Muhammadiyah jelas akan berupaya menjaga keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk tetap berjalan pada relnya. Berlangsungnya Pemilu 17 April 2019 yang damai akan menjadi konsen dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini.

Gelaran subuh berjamaah akan dinilai sebagai upaya intimidasi dan provokasi kepada pemilih. Agar sesuai dengan keinginan masa yang menggelar acara tersebut. NU dan Muhammadiyah yang mempunyai massa besar, menurut Kyai Imad, akan menggelar acara yang sama. Untuk menghalau upaya provokatif dan intimidatif terhadap warganya itu. Dan kalau ini terjadi maka akan terjadi benturan yang akan mengganggu lancarnya pemilu. Maka negara harus turun tangan segera mengajak dialog fihak-fihak yang menggagas acara subuh akbar itu.

Menurut Kyai Imad Kresek, waktu kampanye sudah begitu panjang untuk mengajak warga pemilih agar memilih pasangan calon masing masing. Maka biarkanlah masa tenang betul-betul menjadi masa tenang untuk bangsa Indonesia.

“Biarkanlah mereka memilih sesuai dengan penilaiannya terhadap kampanye yang selama ini dilaksanakan oleh pasangan calon. Tidak ada lagi di masa tenang upaya-upaya untuk mempengaruhi pemilih. Apalagi menggunakan isu sensitif seperti isu agama dan eksploitasi ritual yang sakral. Karena pasti akan menyulut respon yang sama dari umat Islam yang tidak setuju dengan upaya-upaya semacam itu,” tegas Kyai Imad. (TMS)

Telah Tayang di media : suarakeadilan.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *