Berikut Review Pilkada Sumut dan kekalahan Djarot Sihar

Sekretaris eksekutif keluarga alumni ugm / kagama sumut, Winner Basarito Nadapdap. SE/Foto : Doc. (Pribadi)

Fokusparlemen.com, Jakarta – Masyarakat di 171 daerah telah melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak pada Rabu (27/6). Ada 17 Provinsi, 115 Kabupaten dan 39 Kota yang menggelar pemungutan suara. Selang beberapa jam setelah pemungutan suara, sejumlah lembaga survei merilis hasil hitung cepat atau quick count pelaksanaan Pilkada.

Salah satu yang menyita perhatian adalah hasil hitung cepat Pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Dalam perebutan kursi orang nomor satu di Sumatera Utara, bertarung dua jagoan. Djarot Saiful Hidayat yang diusung koalisi PDIP-PPP. Eddy Rahmayadi yang diusung koalisi gemuk PKS, Gerindra, Golkar, PKB, PAN, Hanura, NasDem. Dilansir dari media FokusparlemenO. Sabtu (30/06)

Hasil hitung cepat (quick count) Pilkada Sumatera Utara 2018 sudah rampung 100 persen. Data survei menunjukkan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah unggul melawan Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus.

Berikut Penuturan Tokoh Muda Sumut Winner Basarito Nadapdap, terkait kekalahan Djoss. ” Saksi Djoss lebih lengkap. Dibandingkan pada masa pilgubsu Effendi Simbolon dimana saksi PDIP terisi maksimal cuma 50% dari total TPS “. ujarnya di terima media FP.

Ditambahkan Sekretaris eksekutif keluarga alumni ugm / kagama sumut tersebut, Hampir semua Suara perkebunan di sumut ke edi rahmayadi (seperti kebun Wilmar grup, RGM Sukanto Tanoto grup, Permata Hijau Robert Grup, Musim Mas grup, Sinar Mas, Lonsum, Bakri, Sofindo dll). Diperkirakan 5 – 8 % pemilih sumut berada di kebun ;

– Suara komunitas jawa ke djarot hanya sekitar 8 % dari total 34 % jawa di Sumut. Mirip kondisi pada pilgubsu Tritamtomo Beni Pasaribu.

– Djarot hanya menang di daerah yg mayoritas kristen dan Tionghoa (daerah yg memang basisnya loyalis pdip)

– kampanye akbar di asahan dan deliserdang tidak memberikan dampak kemenangan didaerah tsb

– Semua daerah yg mayoritas komunitas Minang Melayu dan Mandailing ternyata Djarot kalah total. Menunjukan memang pada setiap pemilu pileg dan pilkada calon yg berasal dari internal PDIP tidak laku untuk komunitas M3 (Minang Melayu Mandailing).

– Tim sukses Djarot umumnya dari PDIP, Batak yg umumnya Kristen. Tim Jawa Djarot hanya pengurus PDIP (Djumiran Abdi dan Sutarto tidak populer di komunitas jawa). Tim muslim Djarot hanya tokoh Baitul Muslimin PDIP yg umumnya dari NU dan bukan dai ustad populer di sumut malah kebanyakan politisi

– Semua publikasi dan billboard lebih menunjukan gambar foto tim sukses seperti Junimart, Ricky Sitorus dll. Tidak ada gambar pengurus Pujakesuma, Pendawa dan tokoh komunitas Jawa Sumut.

Kesimpulan :

1. Suara komunitas jawa sangat minim ke Djarot membuktikan calon PDIP dari suku jawa tidak otomatis didukung Jawa. (Contoh Tritamtomo, Djumiran Abdi dan Djarot).

2. Suku jawa di sumut memilih tidak melihat suku tetapi unsur agama, unsur pendekatan pribadi dan unsur komersial. Istilah Wani Piro justru muncul dari komunitas jawa yg membuktikan unsur uang dan realistis

3. Tim sukses yg cuma mengandalkan pengurus PDIP , ternyata *tidak kompeten* untuk pemenangan pilkada. Mereka hanya mengandalkan jabatan struktural partai dan tidak mampu kerja menggalang massa non PDIP di lapangan / grass root.

4. PDIP tidak berani dan tidak mau memberi kesempatan seluas luasnya dari non PDIP untuk menjadi ketua tim sukses dan anggota tim pemenangan atau ring satu. Harusnya Katim pemenangan jangan Batak lagi krn ketua dpd pdip dan calon wagub yg disodorkan sudah bersuku batak. Bandingkan dgn ERAMAS. Smua relawan dan timses solid, senang bersama, sakit bersama serta militan;

5. PDIP dan Djarot mengabaikan pendekatan ke semua owner dan manajemen perkebunan;

6. PDIP dan Djarot mengabaikan pembentukan tim ulama untuk safari ke semua mesjid di sumut pada saat sembayang subuh, asyar, magrib, perwiridan majelis taklim, sembayang tarawih dan sahur pada bulan puasa. Harusnya ini yg lebih digencarkan ke daerah yg bukan basis suara pdip utk bisa menambah jumlah meskipun probabilitas menang sangat kecil. Bandingkan dengan eramas, yg berhasil mencuri suara komunitas batak/nasrani di pematang siantar, nias dll

7. PDIP dan Djarot
mengabaikan usul untuk program prioritas pemenangan pilkada yaitu pendekatan intensif ke semua komunitas dan pengurus organisasi jawa di seluruh sumut dan tidak membawa oleh oleh;

8. Timses djarot tidak menyiapkan program kerja andalan yg bs menjadi icon yg bisa dijual djoss. Kartu sakti , e-budgeting adalah program yg sdh biasa dan tidak memberikan efek woww bagi pemilih non Pdip. *HARUSNYA* utk mengalahkan petahana yang didukung banyak partai atau mengalahkan isu primordial DILAKUKAN dengan memunculkan program unggulan, terobosan baru, program yg berani akan tetapi sangat mengena dihati masyarakat luas (program menjual). Coba lihat kebelakang, pak jokowi-ahok saat maju ke dki, muncul dgn program brilian KJP & KJS, maka isu almaidah 51 yg disasarkan ke ahok, tak berefek. Kemudian ketika jokowi-jk maju pilpres, program tol laut, program revolusi mental, serta kartu indonesia pintar dan sehat mampu memenangkan jokowi jk, meskipun harusnya dgn isu pki/capres boneka dan obor rakyat nyaris menghabisi elektabilitas jokowi-jk. Terakhir, perhatikan anies sandi, maju dgn program ok-oce, dp 0 rupiah ditambah isu primordial maka petahana (ahok-djarot) yg maju tanpa program unggulan baru, akhirnya bisa dikalahkan;

9. Timses Djarot tdk merangkul dan melibatkan seluasnya para relawan dan Organisasi yg sudah terstruktur dengan sangat lengkap sampai level terbawah (grass root) utk bersama secara militan memenangkan djoss. BANDINGKAN DENGAN ERAMAS. Ormas KNPI, PP, MPI dll dilibatkan secara penuh dan solid dlm memenangkan Eramas ke akar rumput.

Dengan Pilgub Sumut, Djarot total sudah mengikuti 3 kali pertarungan Pilkada di 3 provinsi berbeda di Indonesia: Jawa Timur, DKI Jakarta dan Sumatera Utara. Setelah dua periode memimpin Blitar, Djarot dikirim PDIP ke DKI Jakarta untuk Pilkada 2017, namun kalah. Lalu dikirim lagi ke Sumatera Utara dan kalah lagi, meski versi quick count. (mi/rls)

*Winner Basarito Nadapdap.(.S.E.).0821-6753-3777*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *