Apatis, 17 Juta Orang Diprediksi Lebih Memilih Pergi Liburan Saat Pemilu

FOKUSPARLEMEN.ID – Ancaman naiknya golput di Pilpres 2019 diprediksi bakal merugikan Paslon 02. Mengingat, jarak elektabilitas antar paslon relatif tinggi. Sementara jumlah swing voter makin mengecil.

Kamis (27/3), lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengeluarkan hasil survei terbaru. Selain elektabilitas paslon, CSIS juga mengungkap ancaman golput yang bakal terjadi di hari pencoblosan.

Dalam surveinya, CSIS memprediksi angka golput mencapai 17 jutaan orang. Prediksi didapat, karena 7 persen masyarakat yang masuk DPT (daftar pemilih tetap) akan pergi liburan di saat hari pencoblosan.

“Survei kami menunjukkan 7 persen dari jumlah pemilih berencana liburan. Jadi otomatis mereka enggak datang ke TPS dan tidak memilih,” ujar peneliti CSIS Arya Fernandez, di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (28/3).

Alasan memilih liburan, karena 17 April yang merupakan hari pencoblosan ditetapkan sebagai hari libur bersama. Dua hari kemudian merupakan hari libur Paskah alias Jumat Agung dalam rangka memperingati wafatnya Isa Almasih.

“Selanjutnya, Sabtu-Minggu 20-21 April 2019 merupakan hari libur rutin. Jadi bisa disebut, hari pencoblosan momentum libur panjang,” jelasnya. Lantas siapa yang dirugikan?

Menurut Arya, berdasarkan survei keterpilihan dan kemantapan pemilih, Paslon 02 akan dirugikan dengan tingginya golput. Pasalnya, responden yang memilih 01 dan 02 sama-sama memiliki kemantapan memilih yang tinggi.

“Dari segi kemantapan pemilih, petahana tidak perlu khawatir hilangnya suara karena golput. Harusnya yang perlu khawatir penantang (Prabowo) karena elektabilitasnya lebih rendah dari petahana,” ujarnya.

Menurut hasil sigi CSIS, dari basis suara 51,4 persen, kemantapan pemilih Jokowi-Ma’ruf sebesar 84,4 persen. Sedangkan Prabowo dengan basis 33,3 persen, kemantapan pemilihnya sudah 81,3 persen.

Dengan kata lain, angka golput tidak akan mengubah jauh suara kedua pasangan calon. “Dalam hal ini, persoalannya tinggal siapa pemilih lebih militan, lebih solid dan lebih kerja keras untuk mendakwahkan orang ke TPS,” ujar dia.

Di sisi lain, selisih elektabilitas kedua paslon mencapai 18,1 persen. Sedangkan responden yang menjawab tidak tahu atau merahasiakan jawabannya hanya 14,1 persen. Ada pula 1,2 persen belum menentukan pilihan.

Peneliti Lembaga Survei Alvara Research Center, Hasanuddin Ali berpendapat, dua paslon akan terpengaruh oleh tingginya golput. Paslon 01 dirugikan oleh pemilih golput ideologis. Sementara 02, akan dirugikan karena pemilih golput apatis.

“Pada pemilih golput ideologis, mereka secara sadar melihat dua kandidat tidak sesuai dengan ekspektasinya. Di satu sisi, dia (pemilih) tidak puas dengan kinerja Jokowi, di sisi lain dia tidak sreg dengan Prabowo-Sandiaga,” tutur Ali. []

SUMBER Telah Tayang di : rmco.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *