Privatisasi semua Institusi Pendidikan, bisakah diterapkan di Indonesia.??

Privatisasi semua Institusi Pendidikan, bisakah diterapkan di Indonesia.??


Cianjur, Fokusparlemen.id – Bahasan Privatisasi Pendidikan di Indonesia bukanlah hal yang baru, ini pernah ramai diperbincangkan dan menjadi perdebatan, yaitu pada saat diberlakukannya Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional. Namun, privatisasi pendidikan dalam hal ini ialah pendidikan tinggi, pemerintah mengeluarkan hal tersebut yaitu untuk meningkatkan daya saing dan kualitas perguruan tinggi negeri.


Jika kita lihat kondisi pendidikan Indonesia hari ini, masih tertinggal jauh dari Negara-negara lainnya. keberhasilan Negara-negara maju dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas salah satunya karena system pendidikannya. seperti kata Nelson Mandela “Pendidikan adalah senjata yang paling kuat untuk merubah Dunia” maka jika kita mencita-citakankan perubahan untuk Negara kita,rubahlah dengan pendidikan.
Jika di Indonesia terus-terusan tiap ganti mentri ganti kurikulum, maka peserta didik menjadi korban, apalagi jika dijadikan sebagai kelinci percobaan. kenapa pemerintah tidak merubah system pendidikan nya saja.?? yaitu dengan memprivatisasi semua institusi pendidikan. mulai dari pendidikan usia dini, SD,SMP,SMA sampai Perguruan Tinggi, semua dipindahkan ke sektor swasta.


Karena pada realitanya banyak sekali sekolah-sekolah suasta yg bisa melahirkan SDM yang lebih berkualitas, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri yang lebih efektif. Boarding School Misalnya, para orangtua yang sadar bahwa output dari pendidikan tidak sebatas hafalan, nilai dan ranking. melainkan soal moral, karakter, mindset, potensi dan kualitas diri anaknya, maka rela mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta, untuk memberikan proses pendidikan yang paling tepat untuknya. hal ini menjadi cukup bukti bahwa suasta lebih dipercaya.


Salah satu kesuksekan swasta dalam menciptakan pendidikan yang lebih berkualitas, ialah karena kurikulumnya yang menyesuaikan dengan kultur, kondisi dan lingkungan. Sehingga tidak ada kesenjangan anatara kurikulum dengan realitas.
lalu muncul pertanyaan, bagaimana dengan kaum marginal,.? masyarakat miskin juga kan berhak sekolah.?.


Uang yang tadinya untuk menggajih guru, membangun sekolah dan lainnya. Dipakai untuk kesejahteraan ekonomi rakyat, sehingga rakyat mampu memilih sekolah mana yang akan ia datangi. atau menggunakan system voucher, dimana masyarakat diberi sejumlah uang yang ditentukan pemerintah untuk memilih sekolah.
kenapa sekolah suasta dianggap lebih efektif.?? karena sektor suasta bebas korupsi, persaingan tinggi dan persaingan bukan hanya antara siswa tetapi anatara sekolah juga. dan setiap kali ada privatisasi, industry itu semakin efektif, ini juga bisa di terapkan dalam industry pendidikan. Salah satu Negara yang sukses menerapkan system ini adalah swedia. Apakah Indonesia bisa.??

(***)

Penulis : An – An Hasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *