Pro-Kontra Vaksin, Bisnis di Ambang Kematian Rakyat

Pro-Kontra Vaksin, Bisnis di Ambang Kematian Rakyat



Fokusparlemen.id – Mengutip kalimat yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, ‘Vaksinasi Covid-19 bukan peluru perak yang bisa segera mengakhiri pandemi. Namun, program tersebut diharapkan membantu membentuk kekebalan kelompok untuk mengurangi angka kejadian dan kesakitan penyakit itu.’


Vaksin. Barang ini bisa jadi adalah solusi COVID-19 dan sebagai penanda untuk penanggalan 2021. Semua negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, berjibaku mendapatkan vaksin. Covid-19 yang datang tiba-tiba, tanpa diundang, dan dengan kecepatan penyebaran jadi persoalan utama dari penyakit ini.


Tidak hanya membuat lebih dari 95 juta orang di dunia terinfeksi, Covid-19 hingga 19 Januari 2021 telah menyebabkan 2,04 juta orang meninggal. Di Indonesia, angka kasus aktif juga masih terus melonjak, apalagi banyak pelanggaran protokol kesehatan terjadi.


Hingga 19 Januari 2021, tercatat hari ini bertambah 10.365 kasus Covid-19 di Indonesia, dari total 927.380 yang pernah dan masih terinfeksi virus ini. Yang meninggal, tercatat 26.590.
Protokol kesehatan tampak tak berarti di bangsa ini. Berkali-kali pembatasan aktivitas sosial dilakukan, angka kasus tak kunjung turun. Bahkan yang sudah tertib menjalankan protokol kesehatan pun masih tetap dibayangi risiko terpapar.


Bidang ekonomi kerap menjadi kambing hitam, alasan, dalih, dan kilah untuk melakukan pelanggaran protokol kesehatan. Pembatasan total tak jadi pilihan langkah sejak awal juga karena pertimbangan ini.
Masalahnya, ekonomi pun tak punya banyak ruang peluang untuk membaik selama masalah kesehatan ini tak kunjung memperlihatkan harapan perbaikan apalagi solusi. Solusi terbaik yang bisa dilaksanakan adalah pemberian vaksin kepada rakyat seluas-luasnya. Walaupun tidak bisa memperbaiki hal yang sudah hilang, tetapi setidaknya bisa memperbaiki keadaan di masa yang akan datang.


Manfaat vaksin yang paling mendasar adalah sebagai upaya mencegah penyakit menular. Hal ini karena vaksin dapat memberikan tubuh Anda pertahanan dan perlindungan dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya. Karenanya, vaksin kini bisa dibilang jadi tumpuan optimisme. Itu juga dengan banyak catatan. Satgas Pemulihan Nasional (PEN) juga menyebutkan jika vaksin diharapkan bisa menjadi ‘penolong’ ekonomi nasional.


Catatan paling mendasar adalah jumlah minimal populasi tervaksinasi harus tercapai agar vaksin optimal berperan memagari masyarakat dari wabah dan pengedukasian kepada masyarakat tentang pentingnya vaksin.


Yang menjadi pertanyaan awal adalah, “Apakah masyarakat mau divaksin?”
Meski Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, telah mengeluarkan izin darurat penggunaan vaksin atau Emergency Use Authorization (UEA) vaksin Sinovac produksi Sinovac Biotech Inc. Namun pro dan kontra penyuntikan vaksin di kalangan masyarakat juga masih terjadi. Padahal, sosialisasi serta edukasi tentang program vaksinisasi yang dilakukan pemerintah terus digaungkan.


BPOM memberikan persetujuan penggunaan dalam kondisi emergensi (EUA) untuk vaksin Covid-19 yang pertama kali kepada vaksin CoronaVac, produksi Sinovac Biotech Inc yang berkerja sama dengan PT Bio Farma pada hari senin, 11 Januari 2021.


Keputusan tersebut didasarkan dari hasil uji klinis tahap tiga yang dilakukan di Bandung serta di Brazil dan Turki. Di mana hasil uji klinisnya tahap tiga di Bandung menunjukan efikasi vaksin sebesar 65,3 %. Sedangkan di Brazil menunjukan efikasi sebesar 78 % dan di Turki sebesar 91,25 %.
Hasil tersebut menurut BPOM, telah memenuhi persyaratan otoritas kesehatan dunia (WHO) dengan minimal efikasi vaksin sebesar 50 %. Efikasi dari vaksin Sinovac tersebut benar di atas 50 %, tetapi efek samping dari vaksin tersebut masih diragukan oleh masyarakat.


Banyaknya masyarakat yang khawatir akan efektivitas dan efek samping dari vaksin tersebut lantaran ke simpang siuran pemberitaan yang terjadi di media sosial akan vaksin sinovac asal Tiongkok tersebut.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia sudah seharusnya menerima vaksin tersebut demi mencegah peningkatan korban dari pandemi ini. Walaupun tetap ada kekhawatiran yang menggelayuti mengenai uji klinis dan efek samping, namun masyarakat diminta untuk percaya kepada pemerintah.


Apalagi di media akhir-akhir ini memberitakan bahwa ada 33 orang telah meninggal di Norwegia dalam waktu singkat setelah menerima dosis pertama dari vaksin COVID-19 buatan Pfizer Inc yang dinilai memiliki efikasi 95% berbeda dari Sinovac dengan efikasi 65,3%. Menurut Badan Obat Norwegia (NMA) dari kematian tersebut 13 telah diotopsi dengan hasil menunjukkan bahwa efek samping yang umum mungkin telah berkontribusi pada reaksi parah pada orang tua yang lemah.


Di awal kemunculan berita orbitnya vaksin COVID-19, masyarakat meyambut antusias datangnya vaksin tersebut dan masyarakat berharap vaksin tersebut dapat memperbaiki kesehatan masyarakat Indonesia dari wabah virus corona.


Pro kontra yang terjadi di masyarakat hari ini disebabkan oleh efikasi vaksin tersebut belum terbukti aman, efek samping, dan mencegah penyebaran COVID-19 di tubuh manusia secara efektif. Sekiranya hal itu terbukti, masyarakat tak akan ragu dan bisa jadi berebut dalam menerima vaksin tersebut.
Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya efikasi vaksin dan efek samping menjadi jawaban. Jangan sampai vaksin hanya justru menjadi bisnis pemerintah, bisnis di atas ambang kematian rakyat. (**)

Penulis : Oleh : M. Rizki Al Safar
(Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *