Tak Terprioritaskannya Pendidikan Di Masa Pandemi

Tak Terprioritaskannya Pendidikan Di Masa Pandemi

Oleh Riski Ilhami*

FOKUSPARLEMEN.ID, Pendidikan merupakan aspek paling mutlak bagi siapapun tak terkecuali generasi muda Indonesia. Tetapi belakangan ini hal tersebut terasa menjadi asing selama masa pandemi, pendidikan terasa terabaikan atau memang diabaikan. Siapa tak tahu dengan keadaan seperti sekarang, kebijakan yang berubah-ubah dari konsep menyelamatkan ekonomi atau nyawa pribumi, tetapi hanya sedikit ruang yang membicarakan aspek pendidikan, bahkan akhir-akhir ini menteri pendidikannya hilang bak di telan pandemi.

Banyak kalangan dari civil society mempertanyakan bagaimana kebijakan terkait pendidikan selama ini. Tak ada pandemi saja pendidikan negeri ini amburadul, apalagi di tengah pandemi seperti sekarang ini. Rasanya sangat membosankan membicarakan virus ini secara terus menerus, tetapi ketika virus menjadi ajang untuk mencari pemasukan lebih bagi yang di untungkan, itu adalah hal lumrah bagi sebagian ‘oknum’. Berbisnis di atas penderitaan banyak orang di jadikan pekerjaan baru di negeri yang mengatakan menjunjung nilai-nilai hak.

Konon dalam rentan waktu yang sudah sekian lama, kurva pasien positif tak kunjung turun. Apakah ini nyata atau rekayasa? Sungguh sangat di sayangkan bila hal-hal yang buruk menjadi kebiasaan baru yang dipertontonkan. Padahal rakyat sudah sangat cerdas dalam hal ini, perkembangan teknologi sudah mampu membuat mata dan pikiran banyak orang terbuka. Kali ini semua orang bisa melihat dunia. Rakyat sudah cerdas, hanya pemerintah saja yang konyol atau sengaja bertingkah konyol karena tak mampu menyelesaikan problem ini.

Dalam kesempatan kali ini penulis mencoba memahami bagaimana kondisi dalam negeri dan diluar negeri. Bagi penulis, memahami apa yang terjadi secara global adalah satu hal yang baik, akan tetapi akan lebih baik lagi jika kita mampu memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam negeri terlebih dahulu. Ada banyak korelasi mengapa pandemic kini menjadi bisnis dalam bidang kesehatan, menakut-nakuti lalu berjatuhan korban. Miris!

Sejak awal di terapkannya belajar di rumah bagi seluruh peserta didik baik dari tingkatan sekolah dasar (SD) hingga jenjang tertinggi di perguruan tinggi terkesan tidak efektif. Bahkan cenderung tidak ada standarisasi bagaimana metode belajar di rumah selama masa pandemi, yang terjadi hanyalah pembelajaran dan diskusi-diskusi yang menghabiskan kuota internet tanpa adanya substansi yang jelas. Proses belajar dalam jaringan (daring) sangat merugikan bagi peserta didik, belum lagi segala fasilitas yang belum memadai baik secara infrastruktur maupun suprastruktur pendidikan.

Pendidikan di Masa New Normal

Baru-baru ini terhembus kabar bahwa pemerintah pusat akan segera memberlakukan masa transisi menuju new normal. Tentu dengan segala pertimbangan dari pemerintah yang melibatkan banyak kalangan mulai dari elit politik, tokoh, hingga para pakar. Namun sayangnya, isu tersebut terhembus dengan kabar pertama bahwa mall yang menjadi awal peresmian new normal. Hal ini sangat miris, mengapa tidak pendidikan dulu? Padahal jelas pada beberapa wilayah yang bahkan hingga kini persentase pasien positif masih nol dan masuk zona hijau pastinya layak untuk di perhatikan dalam bidang pendidikannya.

Dalam aspek pendidikan penulis melihat bahwa pemerintah berada dalam posisi acuh tak acuh. Hal ini di tenggarai oleh selalu mempertimbangkan ekonomi terlebih dahulu, padahal hal paling esensial pada manusia adalah kehidupan yang di sokong oleh pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Ada semacam fallacy dalam logika yang di gunakan oleh pemerintah negeri ini, kita tak melihat ada upaya-upaya untuk menyelamatkan generasi bangsa ke depan. Pemeritaan yang menakuti misalnya, ini jelas sebuah system pembodohan, banyak buzzer yang di bayar hanya untuk memframing bahwa covid-19 ini sangat mematikan. Tetapi di sisi lain solusi dari pemerintah sendiri tak kunjung sampai pada kata konkrit.

Penulis merupakan salah satu orang yang sangat mendukung upaya di berlakukannya pendidikan secara tatap muka, kegiatan tersebut bisa di lakukan dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan seperti yang di anjurkan oleh pemerintah. Karena menurut penulis, pendidikan adalah hal paling mutlak yang di butuhkan oleh manusia setelah isi perut!

Riski Ilhami, mahasiswa Hukum Keluarga Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *